( pcs)
jmlBarangBerat (Kg)Total
keranjang anda kosong
0 0,00Rp 0

Panduan Lengkap Budi Daya Jambu Mede / Mete

Thursday, December 13th 2018.

Kacang mede, sudah lama menjadi camilan favorit banyak orang dan sangat banyak dicari, terutama pada masa-masa menjelang hari raya. Aneka penganan dan produk olahan yang menggunakan kacang mede sebagai bahan utama ataupun pelengkap selalu menjadi incaran. Kacang mede berasal dari tanaman jambu mede (Anacardium occidentale L.). Tanaman ini sangat unik, disebut jambu tetapi sebenarnya bukan jambu. Disebut kacang, tetapi juga bukan termasuk dalam famili kacang-kacangan.

Tanaman ini secara kekerabatan justru lebih dekat dengan mangga (Anacardiaceae). Bagian yang disebut ‘buah jambu mede’ juga bukan buah yang sebenarnya, ia hanya merupakan buah semu. Buah sejatinya justru yang disebut kacangnya itu. sekalipun sudah banyak dibudidayakan di Indonesia, ternyata belum menjadikan negara kita sebagai pemasok utama kacang dan jambu mede di dunia. Bahkan untuk industri kita masih memerlukan kacang mede impor.

Harga jual kacang mede juga masih tergolong tinggi. Jika Anda kebetulan memiliki lahan yang cukup luas dan sedang mempertimbangkan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu yang sekiranya menguntungkan, Anda dapat memilih jenis tanaman ini. Ingin memiliki tanaman unik ini, tetapi tidak memiliki lahan yang cukup luas? Jangan khawatir karena tanaman ini pun dapat ditanam di pekarangan rumah. Sebaiknya tanaman ini ditanam langsung di tanah, tidak di dalam pot, sebab jambu mede memiliki sistem perakaran yang rumit.

Sebelum memulai pembudidayaan jambu mede, mari kita mempelajari serba-serbi jambu mede agar dapat menanganinya secara tepat.

Sejarah singkat dan sentra pembudidayaan jambu mede di Indonesia

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.2

Tanaman jambu mede merupakan tanaman asli Brazil Tenggara. Persebarannya dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis 425 tahun yang lalu ke berbagai bagian dunia, baik negara-negara di wilayah tropis maupun subtropis, seperti Kepulauan Bahama, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilanka, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Dalam bahasa Inggris, kacang mede disebut cashew, yang merupakan turunan dari kata caju dalam bahasa Portugis. Kata caju sendiri diambil dari kata acaju yang merupakan bahasa suku Indian Tupi, penduduk asli wilayah Brazil Tenggara.

Hingga saat ini, Brazil, Kenya, dan India masih menjadi negara-negara pemasok utama kebutuhan kacang dan jambu mede di dunia. Di Indonesia, tanaman jambu mede awalnya juga dibawa oleh pelaut-pelaut dari negara yang sempat menguasai Indonesia selama beberapa tahun tersebut. Ada banyak sebutan lain untuk jambu mede dalam berbagai dialek lokal, seperti jambu mente, jambu mete, jambu monyet, jambu dwipa, jambu erang, jambu jipang, jambu dare, jambu masong, buwa yakis, jambu sereng, jambu tapesi, dan lain-lain.

Sentra pembudidayaan jambu mete di Indonesia tersebar di beberapa wilayah, antara lain, di Jawa Tengah (Wonogiri dan Jepara), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan, dan Ponorogo), Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman), Bali (Karangasem), Sulawesi Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna), dan Nusa Tenggara Barat (Sumbawa Besar, Dompu, dan Bima).

Karakteristik dan morfologi jambu mede

Jambu mede termasuk dalam kategori tanaman keras (berkayu) yang memiliki batang sejati. Pohonnya berukuran sedang, tingginya dapat mencapai 12 – 15 meter, dan cabangnya banyak. Batangnya tidak rata dan berwarna coklat. Akar tunggangnya dapat tumbuh sepanjang 5 meter dan akar serabutnya menyebar secara horizontal. Sistem perakaran semacam ini menyebabkan jambu mede sulit ditanam dalam pot. Jikalau pun dapat dilakukan, pot harus rutin diganti dengan ukuran yang lebih besar dan lebih kuat.

Produktivitasnya tentu tidak sebaik jika ditanam langsung di tanah. Helai daun jambu mede bertangkai dengan posisi daun di ujung ranting, merupakan daun tunggal, berbentuk lonjong seperti telur (oval), ujungnya membundar, pangkalnya meruncing, dan melekuk ke dalam. Panjang daun 10 – 20 cm, lebar 5 – 10 cm, panjang tangkainya 0,5 – 1 cm. Tulang daun menyirip dan tampak jelas. Daun muda berwarna coklat kemerahan hingga pucat, daun tua berwarna hijau gelap.

Tanaman ini merupakan monoesis (tanaman berumah satu) dengan bunga berkelamin campuran (hermaprodit). Bunganya berwarna putih ketika baru mekar lalu berubah menjadi merah muda, kecil, harum, termasuk bunga majemuk. Tumbuh pada ujung tunas atau ranting. Proses pembuahan pada bunga jambu mede lebih banyak dipengaruhi oleh kehadiran serangga yang tertarik oleh baunya yang sangat harum dan sifat serbuk sarinya yang pekat.

Dalam hal ini, angin menjadi kurang berperan dalam proses penyerbukan putik bunga jambu mede. Jambu mede mulai berbunga pada umur 3 – 5 tahun dan dapat berbunga sepanjang tahun jika didukung oleh curah hujan yang merata sepanjang tahun. Akan tetapi, umumnya puncak produksi terjadi hanya setahun sekali. Pohon jambu mede tergolong dalam tumbuhan dikotil atau berkeping biji dua (biji belah/berdaun lembaga dua). Buahnya terdiri atas dua bagian, buah semu dan buah sejati.

Bagian yang disebut buah, berupa daging lunak yang membesar dan berair adalah bagian buah semu. Disebut buah semu karena sebenarnya ia bukan buah, melainkan tangkai buah yang membesar. Bagian ini merupakan cadangan makanan bagi tanaman jambu mede. Warnanya bermacam-macam tergantung dari varietasnya, ada yang putih, kuning, kuning kehijauan, hijau, merah, hingga merah muda. Bentuk buah semu ini seperti jantung terbalik. Ukurannya 5 – 11 cm. Rasanya manis sepat, berserat, dan mengeluarkan aroma atau bau manis yang kuat.

Buah sejatinya adalah yang kita anggap sebagai biji dan disebut kacang mede. Biji kacang mede merupakan buah sejati tunggal yang diselimuti cangkang ganda, bijinya berkeping dua. Bentuknya seperti ginjal, mirip bentuk buah mangga. Nama marga Anacardium merujuk pada bentuk ginjal tersebut. Cangkangnya berwarna coklat tua atau kehitaman, sedangkan bijinya berwarna putih. Panjangnya sekitar 2,5 – 3,5 cm, lebar lebih kurang 2 cm, ketebalan kulit 1 – 1,5 mm, dengan berat rata-rata 5 – 6 gram.

Buah semu jambu mede dapat dimakan langsung ketika sudah masak atau dijadikan berbagai olahan penganan. Adapun buah sejatinya harus diproses dahulu sebelum dikonsumsi karena mengandung racun yang berbahaya. Getah pada cangkang ganda mengandung senyawa urushiol, kardol/tannin, dan asam anakardia yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan menjadi pemicu alergi pada sebagian orang. Itu sebabnya kacang mede tidak boleh dimakan mentah-mentah. Memanggangnya pun harus di luar ruangan karena menyebabkan iritasi paru-paru.

Baca juga :

Syarat tumbuh

 

Sekalipun dapat tumbuh di daerah subtropis, tetapi tanaman yang aslinya berasal dari negara beriklim tropis ini tentu menyukai tempat yang banyak disinari matahari sebagai tempat tumbuh. Apabila ternaungi atau mengalami kekurangan sinar matahari, produktivitasnya akan menurun, bahkan tidak berbuah sama sekali. Pertumbuhannya akan baik dan optimal dalam suhu harian rata-rata 27oC dengan toleransi minimal 15 – 25oC dan maksimal 25 – 35oC.

Paling cocok dibudidayakan di daerah dengan kelembapan 70 – 80%, toleransi hingga 60%. Ketinggian tempat 1 – 1200 mdpl, batas optimumnya 700 mdpl, kecuali jika pembudidayaan dilakukan dengan tujuan rehabilitasi tanah kritis. Memerlukan curah hujan antara 1000 – 2000 mm per tahun dengan 4 – 6 bulan kering (kurang dari 60 mm). Tekstur tanah yang disukai adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir, dan tanah ringan berpasir. Contohnya tanah berjenis latosal merah dengan solum dalam, tanah alluvial, tanah laterit, pedsolik, dan regosal.

Tingkat keasaman atau pH tanah antara 5,5 – 7,3. Struktur tanah hendaknya gembur dan porous (mudah mengikat air). Derajat kemiringan tanah tidak lebih dari 30% dengan syarat apabila ditanam di tanah yang miring harus dibuatkan teras-teras atau tanggul-tanggul.

Teknik pembibitan jambu mede

Sebagai tanaman berkayu dan berbiji, jambu mede dapat diperbanyak dengan dua cara, generatif dan vegetatif. Cara generatif adalah dengan menumbuhkan benih dari biji. Adapun cara vegetatif meliputi pencangkokan, perundukan, penempelan (okulasi), stek, dan penyambungan. Perbanyakan bibit jambu mede dari biji tidak sulit dilakukan, tetapi harus cermat memilih pohon indukan asal biji dan lebih bersabar karena proses pertumbuhannya memakan waktu yang lebih panjang sebelum akhirnya tanaman jambu mede menghasilkan buah.

Cara vegetatif sedikit lebih rumit, tetapi sifat tanaman turunan cenderung mirip dengan induknya, ukuran tanaman seragam, serta proses pertumbuhannya memakan waktu lebih pendek hingga mencapai masa produktif. Produktivitasnya juga lebih tinggi. Di antara sekian banyak teknik perbanyakan vegetatif, teknik cangkok lebih banyak digunakan. Adapun teknik sambung biasanya digunakan untuk tujuan peremajaan tanaman.

Pembibitan dengan biji

Teknik pembibitan melalui biji meliputi langkah-langkah sebagai berikut. Biji yang akan ditanam dipilih dari pohon induk pilihan yang memiliki kualitas terbaik dan berasal dari buah yang sudah benar-benar matang, tidak cacat, yang dipanen pada pertengahan musim panas. Keluarkan biji dari buah semunya. Agar mudah mengeluarkannya, biarkan buah semunya sampai agak busuk terlebih dahulu. Setelah itu, cuci bersih dan sortir. Pilih biji berdasarkan rapat jenis dan beratnya, bukan besarnya.

Cara menentukan rapat jenis biji adalah dengan merendam dalam air gula 20%. Biji yang tenggelam dalam larutan tersebut adalah biji yang baik untuk bibit. Idealnya berat biji untuk bibit sekitar 6 – 12 gr/butir. Jemur hingga kadar airnya tinggal 8 – 10%. Kemas dalam kantung plastik, simpan di tempat yang memiliki aliran udara lancar dengan suhu antara 25 – 30oC dan tingkat kelembapannya antara 70 – 80%. Simpan biji selama minimal 2 – 3 bulan, maksimal 7 – 12 bulan, tergantung kondisi tempat penyimpanan.

Biasanya biji masih tetap baik untuk dijadikan benih sekalipun sudah disimpan selama 6 bulan. Sementara biji disimpan, siapkan tempat persemaian. Biji dapat disemaikan di dalam polybag atau langsung di tanah. Tetapi sebelumnya, perlu dibuatkan bedengan terlebih dahulu. Syarat pembuatan bedengan adalah topografi tanah datar, tidak terlindung pepohonan, sumber air cukup dan dekat, letak lebih tinggi dari lahan sekitar untuk menghindari genangan air, lokasi dekat dengan tempat penanaman, dan bersih dari gulma dan tanaman lain yang merugikan.

Cara membuat bedengan, pertama, olah tanah dengan cangkul atau bajak sedalam 30 – 40 cm. Biarkan selama 2 minggu untuk diangin-anginkan dan terkena sinar matahari agar gas-gas beracun di dalamnya hilang dan juga untuk membunuh kuman yang ada di dalamnya. Setelah dua minggu, cangkul lagi tipis-tipis dan beri pupuk kandang secukupnya. Misalnya, dengan perbandingan 1 : 1. Lanjutkan dengan membuat parit di sekeliling bedengan selebar 60 cm dan panjangnya 5 m. Apabila sudah selesai, buat atap bedengan dari alang-alang atau daun kelapa.

Untuk penyemaian dengan polybag, siapkan media penyemaian berupa tanah gembur campur pasir dengan perbandingan 1 : 1. Campuran tanah dan pasir sebagai media semai dapat mempercepat proses perkecambahan. Dapat pula menggunakan campuran tanah gembur dan pupuk kandang (1 : 1) sebagai alternatif. Agar terbebas dari kuman dan bibit penyakit, baik tanah maupun pupuk sebaiknya disterilisasi dahulu dengan cara dikukus. Setelah itu, tanah dan pupuk dicampur hingga homogen.

Baca juga :

Polybag yang digunakan berukuran 30 x 40 cm, lubangi bagian samping dan bawahnya untuk drainase. Isi dengan media semai hingga 90% penuh. Susun di bawah naungan di atas bedengan. Tiap satu polybag sebaiknya hanya diisi dengan satu biji. Untuk penyemaian langsung di tanah bedengan, langkah pertama adalah merendam biji dalam air selama 24 jam untuk mempercepat perkecambahan. Sebelum biji ditanam, sirami dahulu bedengan hingga basah. Buat lubang sedalam 5 cm dengan jarak antarlubang 20 cm.

Tanam benih ke dalam lubang tanam dengan posisi lekuk bijinya menghadap ke bawah. Tekan ke dalam lubang hingga tersisa 2 – 3 cm dari permukaan tanah. Tutup kembali lubang dengan tanah tipis-tipis, sirami secukupnya untuk menjaga kelembapan. Bibit juga dapat disemaikan langsung di tanah tempat penanaman permanen. Setelah memastikan bahwa lokasi tanam sudah sesuai dengan syarat tumbuh, buat lubang tanam berukuran 50 x 50 x 50 cm. Isi dengan 2 – 3 biji yang masing-masing disebar sejauh 10 cm di dalam lubang tersebut.

Jarak antara lubang tanam yang satu dengan yang lain 5 x 5 m jika ditanam tanpa tanaman sela dan 8 x 8 m sampai 10 x 10 m jika menggunakan tanaman sela. Untuk menghindari hama, terutama rayap, lubang tanam diberi pestisida. Setelah biji dimasukkan, padatkan tanah, siram dengan air secukupnya. Simpan polybag di tempat teduh dekat sumber air. Untuk penyemaian langsung di tanah, tutup semaian dengan serasah daun atau mulsa organik. Sirami pagi dan sore hari.

Benih dari biji dirawat dalam polybag atau bedengan selama 1 – 2 bulan. Selama dalam perawatan, sirami dengan rutin dan berikan pupuk NPK padat dengan dosis 2 gr per liter air. Benih akan berkecambah dalam 16 – 28 hari setelah penanaman di persemaian. Setelah dua bulan, bibit siap untuk dipindahtanamkan. Atau untuk mengurangi risiko kematian bibit pada saat proses pindah tanam, tunggu hingga 5 – 6 bulan ketika bibit sudah benar-benar kuat dan sehat.

Pembibitan dengan cangkok

Pencangkokan adalah cara pengembangbiakkan tanaman secara vegetatif yang paling mudah dan murah. Pencangkokan jambu mede sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar hasil cangkokan tetap lembap dan perakarannya cepat tumbuh. Sebagai bahan cangkokan, pilihlah pohon indukan yang pertumbuhannya baik, sehat, berumur kurang dari 10 tahun, subur dan produktif, mempunyai sistem percabangan yang rimbun, dan bentuk percabangannya baik.

Lakukan sebelum tanaman berbunga. Pilih cabang yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Cabang yang terlalu muda apabila dicangkok pertumbuhannya lemah. Sebaliknya, cabang yang terlalu tua akan sulit berakar. Langkah-langkah pencangkokan jambu mede sebagai berikut. Pertama, cabang yang telah dipilih disayat atau dikupas kulitnya secara melingkar mengelilingi cabang dengan lebar secukupnya. Lakukanlah dengan hati-hati agar tidak sampai melebihi bagian kayunya (kambium).

Buang kulit sayatan dan bersihkan lendir pada bagian kayu. Biarkan selama 2 – 3 hari. Setelah lendir kering, tutup dengan tanah yang diberi campuran pupuk dengan perbandingan 1 : 1. Dapat juga menggunakan alternatif media tanam yang lain. Bungkus dengan plastik atau sabut kelapa, ikat dengan tali rafia. Akar akan keluar dalam 40 – 50 hari. Setelah 60 hari, cangkokan sudah dapat dipotong dari pohon induknya. Simpan bibit ini di tempat yang teduh, lembap, dan terlindung dari sinar matahari. Bibit ini baru dapat dipindahtanamkan paling cepat 2 – 3 hari kemudian.

Pemindahtanaman sebaiknya dilakukan ketika masih ada hujan. Lakukan pemindahan pada sore hari atau menjelang malam. Bibit dipindahtanamkan ke dalam media tanam yang terdiri atas campuran tanah gembur dan pupuk kandang (1 : 1). Pasang ajir sebagai penahan agar bibit tidak mudah bergeser atau bergerak karena tertiup angin sehingga roboh. Perlu dicatat bahwa bibit hasil cangkokan sangat peka akan stressing atau cekaman panas ekstrem dan angin kencang yang dapat menyebabkan pergeseran akar.

Sirami dua kali sehari, pagi dan sore. Setelah dipindahtanamkan, biasanya daun pada bibit cangkokan akan rontok, tetapi akan segera digantikan dengan tumbuhnya tunas baru. Anda dapat membeli bibit jambu mede di tempat penjualan bibit yang dapat dipercaya. Pastikan bibit yang Anda beli bebas dari hama dan penyakit. Daunnya tampak segar dan rimbun, batangnya tidak kering, perakarannya sehat. Umur bibit sekitar 5 – 6 bulan karena pada umur ini kemungkinan bibit sudah lebih kuat menghadapi stress akibat adaptasi dengan lingkungan baru.

Pengolahan lahan dan media tanam

Setelah mendapatkan lokasi lahan dengan iklim dan jenis tanah yang sesuai, bersihkan dari berbagai tanaman pengganggu dan juga tunggul-tunggul tanaman sebelumnya. Singkirkan pula berbagai jenis sampah atau kotoran lain yang mungkin ada. Lakukan persiapan pengolahan tanah ini pada musim kemarau agar tepat di saat awal musim hujan pemindahtanaman bibit sudah dapat dilakukan. Selain itu, pemilihan waktu pengolahan tanah pada musim kemarau dapat mengurangi tingkat keasaman tanah yang terlalu tinggi.

Baca juga :

Waktu tanam yang tepat paling lambat pada pertengahan musim hujan. Bajak atau cangkul tanah hingga kedalaman 30 cm hingga teksturnya gembur. Taburkan belerang jika pH tanah masih terlalu tinggi atau kapur dolomit jika pH tanah terlalu masam dari yang ideal. Campurkan pula pupuk kandang untuk meningkatkan kesuburan tanah. Buat parit-parit untuk drainase. Untuk perkebunan dengan luas setidaknya 1 Ha dengan topografi datar, buat bedengan-bedengan tempat lubang tanam.

Tentukan pola tanam yang akan digunakan, apakah monokultur (tanpa tanaman sela) atau polikultur (dengan tanaman sela, seperti palawija, untuk efisiensi lahan). Buat lubang tanam berukuran 30 x 30 x 30 cm atau 50 x 50 x 50 cm apabila tanah sangat liat karena mengandung banyak lempung atau jika tanahnya tandus dengan jarak tanam sesuai pola tanam, ukuran lahan, dan banyaknya bibit yang hendak ditanam. Untuk sistem monokultur, jarak tanam 5 x 5 m sudah cukup baik.

Sedangkan untuk polikultur, jarak tanam mulai 6 x 6 m sampai 12 x 12 m. Jika lahan tergolong sempit, misalnya, di pekarangan rumah, sementara bibit yang hendak ditanam lebih dari satu, jarak tanam minimalnya 3,5 m. Untuk lahan berupa tanah miring, jarak tanam disesuaikan dengan kontur. Pisahkan tanah galian lubang tanam bagian atas dan bagian bawah. Agar tidak tertukar, timbun tanah galian bagian atas di sebelah utara dan selatan lubang tanam, sementara tanah galian bagian bawah ditimbun di sebelah barat dan timur lubang tanam.

Jika dalam penggalian tanah ditemukan lapisan cadas, tembus lapisan tersebut agar nantinya akar tanaman dapat tumbuh sempurna dan terhindar dari genangan air. Biarkan lubang terbuka selama 4 hari agar terpapar sinar matahari untuk mematikan kuman-kuman atau mikroorganisme berbahaya lainnya dalam tanah. Campurkan tanah galian bagian atas dengan pupuk kandang atau kompos atau pupuk organik. Untuk pupuk organik, sebaiknya gunakan yang sudah difermentasi (bokashi).

Masukkan hingga 1/3 atau ½ bagian lubang, tutup kembali sisa lubang dengan tanah galian bagian bawah. Berikan penanda pada setiap lubang agar mudah ditemukan ketika sudah waktunya menanam. Diamkan hingga satu bulan lamanya agar pupuk terurai dengan baik dan siap diserap akar. Lubang tanam siap digunakan untuk menanam bibit jambu mede dalam 4 – 6 minggu.

Penanaman bibit jambu mede

Waktu penanaman yang terbaik adalah pada awal musim hujan. Lakukan pada sore hari agar bibit tidak layu akibat terpapar teriknya sinar matahari siang. Siapkan bibit, pilih yang paling baik. Buka kembali lubang tanam seukuran lubang yang dibuat semula atau seukuran polybag semai. Jika bibit diambil dari persemaian dengan polybag atau bibit yang dibeli dengan polybag atau bibit hasil cangkokan yang akarnya masih dibungkus plastik atau sabut kelapa, buka polybag/pembungkusnya hati-hati agar tidak sampai merusak media semai dan perakaran.

Jika bibit disemaikan di bedengan, angkat bibit dari atau dengan tanahnya. Hati-hati jangan sampai merusak akar. Masukkan segera bibit ke dalam lubang tanam dalam posisi tegak tepat di tengah lubang. Untuk bibit hasil cangkok atau perbanyakan vegetatif lainnya, pastikan posisi akar tunggangnya lurus ke bawah. Adapun akar cabangnya diatur sedemikian rupa agar menyebar ke segala arah atau sudut lubang tanam. Ujung-ujung akar yang patah atau rusak sebaiknya dipotong saja.

Timbun kembali hingga sama dalamnya dengan kedalaman di persemaian. Padatkan tanah di sekitar batang agar posisi bibit tidak bergeser atau roboh. Pemadatan tanah di sekitar batang ini juga dimaksudkan untuk menghindari terbentuknya rongga udara di antara akar. Pemadatan tanah juga berfungsi untuk menghindari genangan air. Sirami secukupnya untuk memadatkan sekaligus melembapkan tanah. Penyiraman segera setelah penanaman bibit di lahan sesungguhnya juga menjadi cara untuk memudahkan bibit beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Gunakan gembor atau embrat untuk penyiraman yang lebih efektif. Penggunaan alat ini juga mengurangi kemungkinan pengikisan tanah. Atau jika lahan perkebunan cukup luas, buat sistem pengairan khusus. Pasang ajir atau penyangga dari bambu jika perlu untuk menopang bibit agar tidak berubah posisinya akibat angin atau sebab lain. Agar kelembapan tanah tetap terjaga, tutup tanah di sekitar batang dengan serasah daun atau mulsa organik.

Pemeliharaan 1: penyiraman

Bibit yang baru ditanam perlu banyak air. Selain untuk membantu proses pertumbuhannya, juga untuk membantunya beradaptasi dengan lingkungan baru dan menghindari stress. Sirami pagi dan sore hari, tetapi jangan terlalu banyak agar tidak tergenang. Setelah tanaman cukup besar dan kuat, frekuensi penyiraman cukup 1 – 2 kali sehari dengan memerhatikan kondisi cuaca dan tingkat kelembapan tanah. Setelah dewasa, tanaman jambu mede termasuk tanaman yang tahan terhadap kekeringan sehingga tidak perlu sering-sering disirami.

Akar jambu mede yang menyebar luas dapat ,encari sumber-sumber air di kedalaman tanah. Pengairan setelah jambu mede besar diperlukan hanya ketika sudah memasuki masa pembungaan dan pembuahan. Hanya saja, untuk tujuan budi daya, pada awal masa tanam perlu membuat sistem pengairan, terutama ketika tanah terlihat sangat kering. Pastikan sistem drainase yang Anda buat diawal pengolahan lahan bekerja dengan baik.

Pemeliharaan 2: pemupukan susulan

Meskipun tanah pada lahan yang digunakan sudah memenuhi unsur-unsur yang diperlukan oleh tanaman jambu mede, juga sekalipun sudah diberikan pupuk dasar pada awal pengolahan lahan, seiring berjalannya waktu tetap ada kemungkinan tanah akan kehilangan unsur-unsur haranya yang sangat diperlukan tanaman, terutama dalam masa pertumbuhannya. Oleh karena itu, diperlukan pemberian pupuk susulan. Pemberian pupuk kandang atau kompos dapat dimulai sejak sebelum penanaman dan diulang dua kali setahun di saat tanaman masih kecil.

Cara pemberian pupuk adalah dengan menggali lubang di sekitar batang sedalam 20 cm menggunakan garpu tanah, sedikit di luar lingkaran daun atau tajuk. Masukkan pupuk ke dalam lubang, lalu tutup lagi dengan tanah. Sirami agar cepat meresap. Untuk pemupukan berikutnya, lubang dibuat di luar lubang sebelumnya. Tujuan pemberian pupuk kandang atau kompos ini adalah untuk memperbaiki kondisi fisik tanah. Total untuk sekitar 1 Ha kebun memerlukan 20 kg pupuk kandang atau kompos.

Setelah melewati umur satu tahun, lanjutkan dengan pupuk buatan. Untuk tujuan melengkapi unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, berikan NPK kocor sebanyak 2 – 5 gr per liter air. Untuk memenuhi kebutuhan akan unsur mikro, berikan pupuk organik cair khusus daun (pupuk daun) yang disemprotkan. Untuk mempercepat laju pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan tunas baru, berikan ZPT dengan interval 7 – 14 hari sekali. Perhatikan dosisnya sesuai anjuran pemakaian yang tertera pada kemasan pupuk.

Untuk mengoptimalkan produksi buah, sesudah tanaman jambu mede berbuah, berikan pupuk MKP dan semprot dengan ZPT. Di sekitar perakarannya berikan pupuk organik. Kemudian ketika buah sudah mulai berisi, berikan KNO/ZK/KCl. Adapun untuk tanaman yang sudah berproduksi, menurut anjuran dari Central Plantation Crops Research Institute (CPCRI) di India perlu diberikan 250 gr pupuk N atau 500 gr urea, 125 gr P2O5 atau 275 gr TSP, dan 125 gr K2O atau 250 gr KCl.

Dosis ini adalah untuk pemberian per pohon per tahun. Dengan demikian berarti dosis per hektarnya adalah 60 kg urea, 115 kg TSP, dan 60 kg KCl bagi populasi antara 150 – 200 pohon. Khusus untuk perawatan tanaman jambu mede di pekarangan rumah, Anda hanya memerlukan pupuk organik yang diberikan setiap satu bulan sekali.

Pemeliharaan 3: penyiangan dan penggemburan

Tanah yang disirami setiap hari lama kelamaan akan memadat, udara di dalamnya pun berkurang. Oleh karena itu, diperlukan tindakan penggemburan tanah kembali secara periodik. Lakukan bersamaan dengan penyiangan gulma, rumput, dan tanaman pengganggu lainnya. Periode yang disarankan adalah tiap 45 hari sekali, terutama pada musim hujan. Penyiangan tanaman liar di sekitar pohon dapat merangsang dan memperbanyak jumlah bunga dan buah yang diproduksi jambu mede, selain tentunya untuk mencegah dan menanggulangi serangan hama dan penyakit.

Selama masih memungkinkan, sebaiknya penyiangan dan penggemburan ini dilakukan secara manual. Kecuali, situasi mulai di luar kendali, di mana pertumbuhan tanaman pengganggu sangat cepat diiringi dengan serangan hama dan penyakit yang hebat. Di saat seperti ini, barulah penggunaan herbisida diperlukan. Usahakan menggunakan herbisida alami/hayati/organik yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan kelangsungan ekosistem selanjutnya.

Akan tetapi, apabila terpaksa, penggunaan herbisida kimia diperbolehkan dengan mengikuti aturan pakai sesuai anjuran/petunjuk penggunaan. Perlu diingat bahwa penggunaan herbisida kimia yang berlebihan dapat membuat gulma resistan atau kebal terhadap obat-obatan ini dan juga dapat meracuni tanah.

Pemeliharaan 4: pemangkasan dan penjarangan

Sejak tanaman jambu mede masih berupa bibit, sebaiknya tindakan pemangkasan sudah mulai dilakukan. Tujuannya untuk menghasilkan percabangan yang baik dan tajuk yang luas. Caranya adalah dengan menghilangkan atau memangkas tunas-tunas samping. Perlakuan ini terus dilanjutkan sampai tanaman mencapai tinggi 1 – 2 meter. Setelah itu, atau jika tanaman dirasakan telah memiliki batang utama yang kuat, pilih 3 – 5 cabang samping yang sehat dan mempunyai kedudukan yang baik terhadap batang utama.

Nantinya dari percabangan ini diharapkan akan menghasilkan tajuk yang bagus dengan intensitas cahaya dan sirkulasi udara yang baik. Untuk pemangkasan bentuk, dilakukan sebelum memasuki fase berbunga atau ketika tanaman masih berada dalam tahap pertumbuhan vegetatif. Pangkas batang yang sudah tua untuk merangsang bunga dan buah. Setelah tanaman selesai berbuah, lakukan pemangkasan pemeliharaan dengan cara melakukan pemangkasan ringan, yaitu menghilangkan cabang yang pertumbuhannya kurang baik, tidak sehat, atau kering.

Penjarangan dilakukan secara bertahap ketika tajuk tanaman sudah saling menutupi. Pada sistem penanaman monokultur dengan jarak tanam 6 x 6 m, tanaman diperkirakan akan mulai saling bersentuhan ketika sudah berumur 6 – 10 tahun.

Pemeliharaan 5: penyulaman

Bibit yang tumbuhnya kurang baik, tidak sehat, atau terserang penyakit sebaiknya disingkirkan. Tindakan ini disebut penyulaman. Ganti dengan bibit baru yang lebih sehat. Tujuan penggantian ini adalah untuk melindungi tanaman lainnya dari kemungkinan serangan penyakit dan menjaga agar populasi tanaman per hektarnya tidak berkurang. Tindakan penyulaman ini masih dapat dilakukan hingga tanaman berusia 2 – 3 tahun. Lebih dari 3 tahun sebaiknya tidak lagi dilakukan penyulaman karena pada usia ini tanaman akan terhambat pertumbuhannya.

Pemberantasan hama dan penyakit

Bagaimanapun usaha kita untuk melakukan pencegahan terhadap hama dan penyakit, kemungkinan untuk mendapatkan serangan selalu ada. Apalagi jika kebetulan sedang terjadi wabah di wilayah sekitar kebun jambu mede kita. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mempelajari cara-cara pencegahan dan penanggulangan hama dan penyakit yang biasa menyerang jambu mede. Berikut macam-macam hama dan penyakit jambu mede serta cara pencegahan dan penanggulangannya.

Hama

  1. Pengorok daun (Acrocercops syngramma Meyrick)

Ulat penggorok daun menyukai daun muda dan muncul pada fase vegetatif pertumbuhan tanaman jambu mede, terutama pada masa pembibitan. Seringkali juga ditemukan pada tanaman mangga dan plum. Serangan dapat menyebabkan kerusakan hingga 80%. Gejala serangan tampak pada adanya liang-liang berliku pada daun yang dimakan. Ulat akan membuat lubang keluar pada epidermis daun. Setelah kurang lebih dua minggu memakan jaringan mesofil daun, lapisan epidermisnya mengelupas.

Maka ulat keluar dari rongga daun dan membuat rongga baru. Bagian daun yang dimakan akan kering dan gugur sehingga tanaman tidak mampu melakukan proses fotosintesis. Telurnya berbentuk bulat telur dan pipih, diletakkan pada permukaan daun muda. Ketika baru menetas, ulatnya berwarna putih. Segera setelah menetas ia akan mulai menggorok di antara epidermis daun bagian atas dan bawah. Dalam fase instar muda, warnanya berubah menjadi hijau kekuningan, lalu berubah lagi menjadi jingga dan akhirnya merah pada fase instar tua.

Ulat-ulat muda berdiam dalam daun-daun muda sehingga t tampak bengkok. Akhirnya ulat menjatuhkan diri ke tanah dan memasuki fase pupa. Fase pupa terjadi di dalam tanah selama 7 – 9 hari. Imagonya berukuran kecil, berwarna hijau atau kelabu perak. Cara mengatasi ulat penggorok daun, antara lain, dengan cara menggali tanah di sekitar akar tanaman jambu mede untuk memusnahkan kepompong dan pupanya atau menguburnya hingga mencapai kedalaman tertentu di mana serangga dewasa tidak dapat menemukan jalan ke permukaan tanah.

Akan tetapi, cara ini efektif hanya ketika tanaman jambu mede masih berupa bibit (masih di persemaian). Dapat pula menggunakan beberapa jenis musuh alami atau serangga-serangga parasitoid, seperti Chrysocharis nephereus dan Sympiesis hyblaeae. Untuk penanganan secara kimia dapat mencoba pestisida berbahan aktif bensultap, profenofos, atau sipermetrin dengan dosis penggunaan yang sangat hati-hati sesuai petunjuk pemakaian sebab bahan-bahan kimia ini berdampak buruk terhadap lingkungan jika tidak digunakan dengan bijak.

  1. Ulat penggulung daun

Ada dua jenis ulat penggulung daun yang mungkin menyerang tanaman jambu mede, yaitu Sylepta spp. dan Lamprosema sp. Pada dasarnya, keduanya merupakan hama bagi tanaman-tanaman palawija yang biasa digunakan sebagai tanaman sela pada sistem penanaman polikultur. Akan tetapi karena sifatnya yang polifag, artinya suka memakan lebih dari satu jenis tanaman, maka dapat pula menyerang tanaman jambu mede yang berada di dekatnya.

Larva Sylepta spp. berbentuk ramping, silinder, panjangnya dapat mencapai 20 mm, berwarna hijau transparan. Menggerek daun dari tepi sampai ke tulang utama di dalam gulungan atau lipatan daun. Imagonya berupa ngengat. Ngengat betina meletakkan telurnya yang berukuran kecil dan berwarna kuning terang di permukaan daun. Hama ini dapat dikendalikan dengan musuh alaminya, yaitu parasitoid dan predator, seperti tawon Apanteles sp., Copidosoma sp., dan Elamus brevicornis.

Larva Lamprosema sp. yang baru menetas berwarna hijau, licin, transparan, dan agak mengilap. Pada bagian punggung terdapat bintik hitam. Setelah tumbuh penuh panjangnya sekitar 20 mm. Kepompongnya terbentuk di dalam gulungan daun. Seperti halnya Sylepta spp., larva ini juga menggerogoti daun hingga tinggal tulangnya di dalam gulungan daun. Ngengatnya berukuran kecil, berwarna coklat kekuningan dengan lebar rentangan sayap sekitar 20 mm. Telurnya diletakkan secara berkelompok 2 – 5 butir pada daun-daun yang masih muda.

Cara mengendalikan hama ini adalah dengan pengendalian hama terpadu. Meliputi pemantauan dini, penanaman serempak, penggiliran atau rotasi tanaman dengan beberapa varietas yang tahan, perbaikan sanitasi, penggunaan cendawan entomopatogen telur Lecanicillium lecanii dengan tingkat mortalitas mencapai 50%, dan penggunaan insektisida hanya apabila populasi hama sudah melampaui ambang kendali. Contoh-contoh insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan aktif klorfluazuron, betasiflutrin, sipermetrin, alfametrin, carbosulfan, dan sihalotrin.

  1. Ulat kipat/kenari/ulat sutra emas (Cricula trisfenestrata Helf)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.12

Apabila Anda menemukan banyak kepompong bergelantungan pada tanaman jambu mede Anda, ditambah daun tidak utuh, tampak banyak bekas gigitan, ini adalah gejala tanaman jambu mede Anda terserang hama ulat kipat. Ulatnya sendiri berwarna hitam dengan bercak putih. Kepala dan ekornya berwarna merah menyala, sementara seluruh tubuhnya ditumbuhi rambut putih. Ukuran maksimal ulat 5 – 7 cm dan mampu bertahan hidup selama 25 – 35 hari.

Telurnya berbentuk oval agak gepeng, diletakkan secara teratur dan tersusun rapi pada pinggiran daun sebelah bawah atau tangkai daun dalam jumlah banyak. Ketika baru diletakkan warnanya putih, lama kelamaan berubah agak kuning muda lalu abu-abu, terdapat noda atau titik hitam pada salah satu ujungnya. Jumlah telurnya sangat banyak, sekali bertelur tiap induk menghasilkan 200 – 325 butir dengan tingkat fertilitas yang tinggi. Telur menetas dalam 7 – 11 hari.

Ulat yang baru menetas berwarna kuning muda, bergerombol memakan kulit telur. Setelah berganti kulit, secara bergerombol ulat ini mulai menyerang daun muda dari bagian bawah hingga ke daun tua. Menjelang berkepompong, ulat tidak makan, melainkan bergerombol mencari tempat yang cocok untuk membentuk kepompong. Fase pupa berlangsung selama 4 minggu, sedangkan fase kepompong berlangsung selama 3 – 5 minggu.

Pupanya berwarna coklat, sementara kepompongnya berwarna kuning emas. Selepas fase kepompong, hama ini berubah menjadi ngengat yang berwarna coklat kemerahan. Ngengat ini aktif makan di malam hari dan tertarik pada cahaya lampu. Ukuran betinanya lebih besar daripada yang jantan, rentang sayap rata-rata 61,6 – 84,2 mm. Pada sayap bagian depan terdapat tiga bercak transparan. Ngengat ini bukan penerbang yang baik, umurnya sekitar 1 – 5 hari, mulai bertelur pada hari kedua. Total siklus hidup hama ini rata-rata 63 – 77 hari.

Pada serangan yang hebat, daun bisa habis sama sekali hingga tampak hanya tinggal tulang daunnya. Pembentukan daun muda terhambat karena selalu habis dimakan, tidak dapat berbuah. Tanaman gundul, tetapi tidak mati. Kondisi ini baru dapat pulih setelah 18 bulan. Cara mengatasinya adalah dengan mengutip ulat yang berkelompok di daun, memotong daun yang menjadi sarangnya, dan memusnahkannya dengan cara dibakar.

Dapat pula memanfaatkan musuh alami, seperti lalat Tachinid, tawon Ichneumon, tawon kertas, laba-laba, dan belalang sembah. Serangan berat dapat diatasi dengan pemberian insektisida berbahan dasar sipermetrin, seperti Cymbush dan Pumicidin, dengan dosis 1,0 – 1,5 ml/l air.

  1. Helopeltis (kepik/nyamuk pengisap daun dan buah)

Ada tiga spesies yang dapat ditemukan pada jambu mede, yaitu Helopeltis schoutedeni Reuter, Helopeltis anacardii Miller, dan yang paling sering ditemukan adalah Helopeltis antonii Signoret. Selain pada tanaman jambu mede, hama ini sering ditemukan menyerang tanaman kakao, kapas, dan teh. Tubuh serangga dewasanya (imago) berwarna merah-coklat-hitam, kecuali pada bagian perut atau abdomen yang bergaris-garis hitam putih. Bentuknya mirip dengan nyamuk, tetapi lebih besar dan gemuk, berukuran panjang 7 – 10 mm dengan antena dua kali lebih panjang.

Siklus hidupnya dimulai dengan imago yang berumur 5 – 7 hari meletakkan telurnya pada jaringan-jaringan lunak, seperti bakal buah, ranting muda, sisi bawah tulang daun, tangkai buah, dan buah yang masih muda secara berkelompok. Satu kelompok berisi dua sampai tiga butir telur yang panjangnya 0,45 – 0,50 mm. Total jumlah telur dari tiap betina sebanyak 25 butir. Telur-telur ini dilindungi jaringan seperti benang berwarna putih seperti lilin yang agak bengkok dan tidak sama panjangnya.

Telurnya sendiri berwarna putih krem. Dalam 6 – 8 hari, telur-telur tersebut menetas menjadi nimfa. Pada tanaman jambu mede, siklus dari nimfa instar pertama menjadi serangga dewasa membutuhkan waktu 22 – 35 hari. Setelah dewasa, rata-rata imago hidup selama 24 hari. Selama itu, nimfa dan imago makan dengan cara mengisap cairan dari tunas muda, daun, cabang, mentor, biji muda, dan buah yang sedang berkembang. Akibatnya, daun, tunas muda, bunga, buah, dan biji terhambat pertumbuhannya, mengerut, dan berwarna kekuning-kuningan.

Tampak pula bercak-bercak kehitaman yang tidak merata pada tunas-tunas muda dan tangkai daun akibat air liurnya yang sangat beracun dan bekas tusukan jarumnya yang tegak di bagian toraks (punggung). Daun dan ranting mengering, diikuti gugurnya daun. Buah muda mengering dan rontok, permukaan kulit retak. Bunga yang diserang berubah menjadi hitam dan mati. Pada kondisi serangan yang parah, pohon jambu mede seperti terbakar dan mengalami mati pucuk.

Tampak pula hasil sekresi dari hama ini berupa gum atau lendir yang mengotori daun dan mentor. Gum atau lendir ini dapat menjadi tempat tumbuhnya cendawan. Populasi tertinggi terjadi pada akhir musim hujan. Hama ini menimbulkan kerugian pada budi daya jambu mede sebesar 25%, terutama jika sudah menyerang tunas muda.

Cara pencegahannya adalah dengan menerapkan kultur teknis, meliputi pemupukan teratur agar tanaman tumbuh kuat dan kebal terhadap serangan hama, pemangkasan yang teratur, menjaga sanitasi lingkungan dengan rutin melakukan penyiangan terhadap tanaman inang, serta pemilihan klon yang unggul (tahan terhadap hama dan penyakit). Pemangkasan dan penyiangan tidak hanya dilakukan pada tanaman jambu mede, melainkan dilakukan pula pada tanaman sela dan peneduh (dalam masa pembibitan).

Usahakan penggunaan cara-cara alami , misalnya, memanfaatkan musuh alami dari hama ini. Contoh-contoh musuh alami hama nyamuk daun adalah jamur Beauveria bassiana, Telenomus sp., berbagai jenis tawon ganas, belalang sembah, bunglon, cecak, semut hitam, dan semut rangrang. Pengendalian dengan insektisida kimiawi golongan karbamat atau organoklorin atau Agroline harus hati-hati karena berisiko meningkatkan populasi. Penyebabnya adalah tanaman yang disemprot akan lebih cepat menumbuhkan tunas baru yang sangat disukai hama tersebut.

  1. Ulat penggerek batang dan akar (Plocaedeus feugineas)

Gejala serangan hama ini adalah adanya liang-liang kecil pada batang dan akar jambu mede. Dapat ditemukan pula massa kayu berwarna kemerah-merahan bercampur cairan menyerupai lem. Akibat serangan ini, daun berubah warna menjadi kuning, lama kelamaan gugur dan rontok. Tanaman pun akhirnya mati. Untuk mengatasinya, ambil telur-telur dan pupa yang terletak di dalam sobekan-sobekan kulit kayu pada pangkal batang dan akar di atas tanah, kumpulkan pula ulat-ulatnya, lalu bakar. Cara lain adalah mengoleskan larutan BMCl dengan dosis 20 gr/liter air.

  1. Kumbang penggerek pucuk buah dan biji (Hephotettyx)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.15

Hama ini menggerek buah dan biji. Buah muda yang diserang akan berjatuhan dan kering, sementara buah tua isinya belum penuh. Larva instar yang terakhir akan jatuh menjadi pupa di tanah. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan hama ini mencapai 20 – 60% karena menyerang pada semua tingkatan umur sehingga buah gugur sebelum waktunya. Belum ditemukan penanggulangan yang efektif, namun dapat dicoba secara mekanis dengan memberantas larva dan pupa secara manual, atau dengan cara kimiawi menggunakan insektisida Karbaril 0,15%.

  1. Nephopteryx

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.16

Hama ini menyerang sambungan antara buah dan biji, menggerogoti epidermis, kemudian membuat liang di dalamnya. Mulut-mulut liang tersebut sangat kecil dan disumbat dengan hasil ekskresinya. Bagian biji yang dimakannya adalah keping. Hama ini menyerang pada semua fase buah, sejak yang masih muda sampai sampai yang sudah tua. Buah muda jadi kosong dan jatuh, buah tua tidak penuh dan kualitasnya rendah. Juga dapat menyebabkan busuknya buah dan biji.

Ulatnya berwarna merah, berukuran sekitar 2,5 mm. Fase kepompongnya berlangsung di tanah. Ketika sudah menjadi ngengat, memiliki dua pasang sayap. Sayap depan berwarna hitam kotor, sementara sayap belakang berwarna putih pucat. Rentang sayapnya 15 – 20 mm.

Baca juga :

  1. Trylooptila panrosema

Jenis ulat ini berwarna gelap kemerah-merahan. Hama ini menggorok masuk ke dalam buah atau mentor jambu mede. Mutu mentor menjadi rendah. Serangan berat mengakibatkan buah gugur sebelum waktunya.

  1. Paradasynus rostratus (kepik pengisap mentor)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.17

Hama ini mengisap cairan biji mede yang masih muda dan lunak. Akibat serangannya, biji mengerut dengan tanda hitam bekas tusukan styletnya dan akhirnya mengering. Serangan berat menyebabkan mutu biji sangat rendah. Telurnya dapat ditemukan di sekitar permukaan bagian bawah daun.

  1. Hypatina halygramma

Hama ini berwarna coklat kehijauan, ada pula yang berwarna coklat kekuningan. Menyerang ujung tunas muda dengan cara menggerek masuk hingga 20 – 25 mm. Tunas menjadi kerdil dan akhirnya mati. Kerugian yang ditimbulkan hama ini mencapai 25%.

  1. Ulat kantung (Pagodiela sp)

Fokus serangan hama ini adalah pada daun. Berkembang sangat cepat melalui kantung-kantung. Serangan dimulai dari bawah daun dengan cara melubangi daun. Daun berangsur menguning, lalu kering dan gugur. Pada serangan yang berat, tanaman jambu mede menjadi gundul. Larva ulat kantung berkembang hingga berukuran 2,5 cm sebelum memasuki fase pupa. Pupa ulat kantung menempati tanaman inang hingga menjadi ngegat, fase pupa/kepompong ini berlangsung selama 7 – 10 hari.

Imagonya berupa ngengat. Ngengat jantan memiliki sayap sepanjang 10 – 20 mm, berwarna hitam, dan antenanya berbulu. Begitu berubah menjadi ngengat, ia terbang meninggalkan kantung dan mencari betina untuk kawin. Imago betina tetap tinggal di dalam kantung dan tidak berubah menjadi ngengat. Bentuknya tetap menyerupai larva atau belatung tanpa mulut, mata, tungkai, dan antena. Pengendalian ulat kantung dengan insektisida berbahan aktif fosfamidon, dimetoat, dan fipronil mampu mengendalikan hama ini hingga 100%, tetapi ada dampak lingkungan.

Alternatif selain penggunaan pestisida atau insektisida adalah penggunaan jamur patogen, misalnya, Beauvaria bassiana vuillemin. Jamur yang merupakan musuh alami ulat kantung ini dapat diperbanyak menggunakan bahan baku jagung giling yang dikemas dalam kantung tahan panas sebagai medium. Proses pembiakan jamur patogen ini pada medium jagung giling memerlukan waktu 14 hari. Cara mempersiapkan pestisida alami berupa jamur patogen Beavuria bassiana vuillemin sebagai berikut.

Jamur yang telah tumbuh di media jagung giling dikeluarkan dari kantung penyimpanannya secara perlahan. Remas-remas hingga spora yang menempel pada jagung keluar. Saring menggunakan kain agar spora tidak bercampur dengan pecahan butiran jagung. Campurkan larutan Tween 80 sebanyak 0,2 ml/liter air. Aduk hingga homogen, lalu semprotkan pada seluruh tanaman jambu mede yang terkena serangan. Ramuan ini dapat mengatasi serangan hama ulat kantung hingga 52%.

Selain ramuan jamur patogen di atas, Anda juga dapat menggunakan insektisida alami yang dibuat dari ramuan daun mimba. Insektisida alami dari ekstrak daun mimba ini dapat menekan populasi ulat kantung hingga 87%. Dapat pula dikombinasikan dengan ekstrak daun sirsak untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif.

  1. Aphis nigricans van der goot

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.21

Serangga berjenis kutu ini dapat ditemukan menggerombol pada pucuk daun muda. Ketika populasinya masih rendah sehingga tingkat kompetisi tempat dan makanan belum tinggi, tidak ditemukan kutu yang bersayap. Namun, jika populasinya sudah tinggi, maka akan ditemukan adanya kutu bersayap yang mampu berpindah ke tempat lain. Rentang sayapnya sekitar 15 – 20 mm dengan warna bagian depan hitam kotor, sementara sayap belakang berwarna putih pucat.

Warna tubuh kutu ini coklat tua dengan sepasang mata hitam. Tungkainya berwarna putih dengan variasi warna hitam di bagian tarsus dan ujung tibia. Antenanya lebih pendek dari tubuh dan sedikit berambut. Pada kutu yang tidak bersayap, antenanya tidak memiliki sensoria. Sedangkan pada kutu yang bersayap, antenanya memiliki satu sensoria pada ruas antena keempat. Selain menyerang pucuk daun muda, hama ini juga menyerang buah muda dan biji. Buah muda yang diserang akan jatuh dan kosong.

Adapun buah tua menjadi tidak penuh dan bermutu rendah. Ulatnya memakan keping biji dari dalam. Ketika baru menetas, ulatnya berwarna merah muda dengan panjang 2,5 mm. Memasuki masa pupa, ulat yang sudah tumbuh dalam ukuran penuh jatuh ke tanah dan diam di dalam kokon yang terbuat dari massa tanah. Fase pupa ini berlangsung selama 8 – 10 hari. Total siklus hidup hama ini sekitar 45 – 65 hari.

  1. Ferrisia virgata (kutu lilin/kutu putih)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.22

Hama ini polifag atau suka makan pada banyak tanaman. Selain menyerang jambu mede, ia juga menyerang singkong, lamtoro, kakao, kopi, jute, kapas, jeruk, tomat, dan alpukat. Hidup berkelompok pada ujung-ujung tunas daun, bunga, serta buah, hama ini mengisap cairan tanaman dengan mulut seperti jarum. Serangan dimulai sejak masih berupa nimfa. Serangan yang berat dapat mengakibatkan gugurnya daun dan mengeringnya bunga. Daun muda ataupun tua dapat diserang.

Populasinya meningkat tajam apabila terjadi musim kering yang panjang. Hama ini juga menjadi vektor penyebar cendawan Capnodium sp. yang menyerang bagian atas daun. Induk betina kutu lilin bertelur 300 – 400 butir. Telur-telur ini menetas hanya dalam hitungan jam. Nimfa mudanya dapat bergerak dengan cepat dan tumbuh dewasa dalam waktu 6 minggu. Betina dewasanya memiliki bentuk khas dengan sepasang garis gelap memanjang di bagian tengah. Badannya berbentuk oval diselimuti lilin putih.

Ekornya panjang seperti benang lilin yang mengilat. Imago ini juga menghasilkan sekresi berupa bubukan lilin sehingga seluruh tubuhnya diliputi oleh benang-benang putih yang dihasilkannya. Kotoran ini mengandung gula tanaman yang menjadi tempat tumbuhnya jamur. Siklus hidup kutu lilin betina sekitar 40 hari atau 1 – 2 bulan. Kutu putih betina tidak bersayap, sedangkan jantannya bersayap. Tubuhnya lebih ramping dengan antena agak panjang. Kutu putih jantan hidup selama 1 – 3 hari setelah mencapai fase dewasa.

Hama ini memiliki banyak musuh alami, antara lain, tawon parasitoid, kumbang kubah, lalat jala, dan jamur. Musuh-musuh alami tersebut dapat digunakan untuk menekan populasi hama kutu putih secara alami. Kecuali, apabila serangan tergolong berat, penggunaan insektisida kimia berbahan profenofos, seperti Curacron, dapat disarankan dengan mengikuti dosis yang dianjurkan.

  1. Wereng putih (Lawana)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.23

Hama ini memiliki perilaku yang khas, apabila Anda mencoba untuk menangkapnya, ia akan bergerak ke kiri atau ke kanan untuk mengelilingi ranting sebelum loncat atau terbang. Wereng betina meletakkan telur secara berkelompok pada daun jambu mede. Setelah menetas, nimfanya mengisap cairan dari daun. Nimfa ini berganti kulit beberapa kali dan memiliki sayap ketika sudah dewasa. Gejala serangan hama ini adalah adanya bekas-bekas berwarna coklat pada bagian dalam ranting hijau yang terserang.

Bekas-bekas tersebut menunjukkan tempat wereng putih menusuk ranting dan mengisap cairan tanaman. Populasi wereng putih pada tanaman jambu mede tergolong tinggi. Cara pengendaliannya adalah dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya, seperti semut rangrang, laba-laba, lalat buas, lalat jala, tawon Platygastrid aphanomerus, belalang sembah, dan jamur patogen Synnematium.

  1. Ulat bulu (Spingognata pelida)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.24

Hama ini berukuran sangat besar, panjangnya mencapai lebih kurang 10 cm. Bulunya sangat panjang hingga mencapai 3 cm. Oleh karena itu, sebagian orang menyebutnya ulat bulu raksasa. Pada serangan yang berat, ulat ini memakan dedaunan hingga tanaman gundul dan meranggas. Ulat yang aktif di pagi hari ini berwarna hitam kecoklatan. Pengendalian secara mekanis sudah cukup untuk memberantasnya tanpa perlu menggunakan pestisida, yaitu dengan cara memukulkan galah pada ranting tanaman jambu mede hingga ulat-ulat berjatuhan.

Setelah berjatuhan, ulat dipungut dan dibakar. Dapat juga menggunakan bantuan musuh alami, yaitu semut rangrang. Apalagi, kondisi cuaca panas dan angin kencang turut membantu menekan populasi hama ini. Ulat bulu raksasa tidak tahan cuaca panas dan bulu-bulunya yang panjang membuatnya rentan terbawa angin kencang hingga jatuh jauh dari pohon jambu mede. Ulat yang tidak dapat menemukan jalannya kembali ke pohon akan mati dengan sendirinya. Hanya saja bentuknya yang mengerikan membuat sebagian orang takut menghadapi ulat ini.

Ada keuntungan tersembunyi yang didapat dengan adanya serangan ulat bulu raksasa. Tanaman yang meranggas karena daunnya habis dimakan ulat bulu raksasa ini ternyata tidak mati. Justru ketika serangan berakhir, bunga akan segera muncul. Jambu mede memang memiliki daya regenerasi yang sangat baik dan tahan tekanan lingkungan. Akan tetapi, pencegahan terhadap serangan ulat bulu raksasa tetap diperlukan untuk menghindari terjadinya serangan berulang dalam waktu dekat.

  1. Wereng pucuk (Sanurus indecora)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.25

Hama ini tidak hanya menyerang jambu mede, tetapi juga tanaman mangga, jambu air, jarak pagar, jeruk, rambutan, nangka, dan padi. Bagian tanaman yang diserang adalah pucuk dan tangkai muda. Dengan siklus hidup 3 – 4 minggu, kerugian yang dapat diakibatkan oleh hama ini mencapai 50%. Seekor imago meletakkan telur sebanyak 80 butir yang akan menetas dalam 5 – 9 hari. Nimfanya melalui 6 fase instar yang berlangsung selama 42 – 49 hari. Imagonya sendiri hidup selama 5 – 6 hari.

Untuk mengatasi hama ini dapat menggunakan musuh alami berupa parasitoid telur Aphanomerus sp., jamur entomopatogen Synnematium sp., dan atau Hirsulellea citriformis. Dapat juga memanfaatkan serangga predator, seperti laba-laba, kumbang Coccinellidae, dan belalang sembah.

  1. Kupu-kupu putih

Menyerang daun, tunas daun, bunga, dan buah. Mengakibatkan gagalnya penyerbukan bunga.

  1. Thrips

Bentuk fisik thrips adalah kurus kecil dengan panjang sekitar 0,5 – 3 mm, meskipun ada juga yang dapat mencapai ukuran panjang 13 mm. Ada yang bersayap, adapula yang tidak. Sayap lengkapnya berjumlah 4, panjang dan tipis dengan bulu di sepanjang tepinya. Hama ini menyerang pada saat pembibitan dengan mengisap cairan tanaman menggunakan mulutnya yang seperti jarum. Daun yang diserang menjadi rusak dan keriting, lalu gugur. Dalam populasi yang terkendali sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai musuh alami dari tungau merah.

Telurnya tersembunyi di bagian-bagian tanaman yang terlindung dari sinar matahari. Musuh alaminya, antara lain, kumbang kubah, semut rangrang, lalat jala, dan berbagai jenis laba-laba. Untuk pencegahan, selalu jaga kebersihan lingkungan dengan rajin melakukan penyiangan terhadap tanaman-tanaman pengganggu yang menjadi inang. Adapun langkah pengendalian apabila cara alami belum dapat mengatasi, gunakan insektisida berbahan dasar abamectin, profenofos, metomil, diafenturon, chlorpyrifos, piridaben, dan sipermetrin dengan dosis sesuai anjuran.

  1. Rayap

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.28

Menyerang pada saat pembibitan. Akibatnya, biji yang digunakan sebagai benih tidak bertunas dan gagal tumbuh. Untuk mencegah serangan rayap, pastikan lahan yang digunakan sebagai tempat pembibitan tidak berada dekat dengan sarang rayap. Olah lahan untuk menghancurkan sarang rayap. Bersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman (pokok kayu dan akar) sebelumnya. Lakukan rotasi tanaman sela pada perkebunan polikultur.

Apabila terlanjur ditemukan adanya serangan rayap, semprotkan cendawan entomopatogen atau beri umpan berupa kertas tisu yang dibasahi larutan hexalflumoran untuk mengusir rayap dari lokasi pembibitan. Apabila cara-cara tersebut masih belum berhasil, taburkan insektisida berbahan dasar karbofuran, fipronil, dan imidakloropid di sekitar pangkal batang tanaman.

  1. Belalang

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.29

Sebenarnya, serangan belalang tidaklah signifikan sebagai hama tanaman jambu mede selama populasinya masih sedikit. Akan tetapi, ketika populasinya tinggi, kerugian yang ditimbulkan cukup besar. Ledakan populasi ini biasanya terjadi pada awal musim hujan. Belalang memakan daun, bunga, ranting, dan hampir semua bagian lain dari tanaman jambu mede, terutama yang masih muda. Telurnya berada di dalam tanah, begitu menetas menjadi nimfa langsung keluar untuk mencari makan.

Mengalami proses ganti kulit beberapa kali hingga dewasa dan bersayap lengkap. Meskipun sudah bersayap pada fase nimfa, tetapi belum mampu terbang, hanya meloncat kuat. Musuh utama belalang adalah laba-laba, burung, dan jenis-jenis belalang lainnya, terutama belalang sembah. Belum ada cara kimiawi yang efektif untuk mengusir belalang.

  1. Kumbang bubuk (Tribolium spp)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.30

Merupakan hama pascapanen. Memakan sisa-sisa buah yang menempel pada kulit biji mede.

  1. Semut

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.31

Juga merupakan hama pascapanen. Semut menggerek biji mede dari dalam gelondongan, masuk melalui kulit biji yang terbuka karena kerusakan fisik.

  1. Hama-hama lain, meliputi ulat jengkal, ulat api, ulat penjaring daun, kumbang daun, ulat perusak bunga, tungau daun, burung, dan kelelawar (codot).

 

Penyakit

  1. Bibit layu

Penyakit ini muncul apabila tempat pembibitan terlalu lembap dan jenuh air. Penyebabnya adalah jamur Phytophthora palmivora butler, Fusarium sp., Cylindrocladium scoparium, dan Phytium ultimum tron. Gejalanya, tanaman tiba-tiba layu. Cara mengendalikan penyakit ini adalah dengan memperbaiki lingkungan pembibitan dengan pengolahan tanah secara intensif, penyemaian tidak terlalu rapat, memperdalam parit pembuangan air dan memperbaiki sistem drainase secara keseluruhan untuk mencegah genangan air di musim hujan.

Mengurangi naungan yang terlalu rapat dengan memperbaiki jarak tanam untuk menghindari kelembapan yang tinggi juga dapat menjadi salah satu cara pengendalian, penggunaan mulsa untuk meningkatkan suhu tanah, mencabut tanaman yang sakit dan membakarnya, serta penyemprotan fungisida secara teratur dan terencana.

  1. Busuk batang dan akar

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.32

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytophthora sp., Phytium sp., dan Fusarium sp. yang menyerang tanaman pada masa pembibitan sehingga berkaitan erat dengan penyakit layu bibit. Penyakit ini termasuk yang paling berbahaya sebab menyebabkan kematian pada tanaman. Secara umum, bagian tanaman yang diserang adalah akar, pangkal akar, dan daun. Penularannya terjadi lewat tanah. Masing-masing cendawan memiliki ciri serangan yang spesifik.

Serangan Phytium sp. menimbulkan gejala daun bagian bawah menguning dan tanaman menjadi kerdil. Bibit membusuk mulai dari ujung akar. Batang hitam, daun terkulai, akar hitam dan mengering. Di sela-sela akar tampak spora jamur berwarna putih. Serangan Phytophthora sp. menyebabkan bibit menjadi pucat dengan jaringan berwarna gelap di sepanjang tangkai. Lama-kelamaan bibit membengkak, layu, membusuk, dan roboh. Adapun serangan Fusarium sp.

berakibat daun memucat, diikuti rontoknya tangkai daun. Daun layu dan gugur. Batang yang terserang berwarna coklat, hitam, dan kuning. Gejala layu menyebar mulai dari daun terbawah terus ke bagian atas. Spora menyebar dengan bantuan air, alat pertanian yang terkontaminasi, bibit yang sakit, dan tanah yang terinfeksi. Untuk mengatasi penyakit ini, cabut dan bakar bibit yang terinfeksi. Tanah pada lubang bekas tanaman dicampur kapur dan biarkan di terkena sinar matahari. Buat drainase serta atur naungan untuk mengurangi kelembapan.

  1. Jamur akar putih

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.33

Cendawan Rigidoporus lignosus atau biasa disebut jamur akar putih menyerang tanaman sejak pada masa pembibitan hingga dewasa. Akar yang diserang menjadi busuk, permukaannya ditumbuhi miselium jamur yang menyerupai akar rambut berwarna putih hingga kuning gading. Gejala yang tampak dari luar adalah daun berwarna hijau kusam, permukaan daun menelungkup, menguning, kemudian layu dan gugur. Tajuk pohon menipis sebagai akibat gugurnya daun, lama-kelamaan gundul, dan akhirnya mati.

Cara mendeteksi penyakit ini adalah dengan menutup leher akar pohon menggunakan serasah/mulsa. Setelah 3 minggu, akan tumbuh miselium berwarna putih pada leher akar. Untuk mengendalikan penyakit ini, bongkar akar yang terserang berat atau bahkan mati dan bakar. Taburkan serbuk belerang sirus dengan dosis 200 g/pohon pada bekas bongkaran. Biarkan terbuka agar terkena sinar matahari sampai 6 bulan. Taburkan jamur Trichoderma sp. pada tanaman-tanaman lain di sekitarnya untuk menghambat penyebaran penyakit.

Berikan pupuk organik 1,5 kali dosis anjuran. Buat parit isolasi sedalam akar pohon sebagai karantina dan menghindari kontak akar dengan tanaman sehat lain di sekitarnya.

  1. Antraknosa

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.40

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum gloeosporioides. Bagian tanaman yang diserang adalah pucuk, daun muda, tandan bunga, buah, dan biji. Kerusakan yang ditimbulkan cukup berat. Gejala awal penyakit ini adalah adanya bercak basah mengilap yang kemudian berubah warna menjadi coklat kemerahan. Daun keriput dan berbintik-bintik kecil. Daun muda dan pucuk mengerut dan menggumpal. Tandan bunga menghitam dan gugur. Buah dan biji keriput dan gugur.

Tunas daun dan pucuk menjadi kering, lalu mati. Spora cendawan ini menyebar lewat angin, air hujan, mobilitas manusia, dan alat pertanian yang terkontaminasi. Cara pengendalian penyakit ini meliputi langkah-langkah perbaikan kondisi kebun, perbaikan sanitasi, pembuatan parit drainase untuk menghindari genangan air, serta pemupukan rutin dengan dosis sesuai anjuran. Bagian-bagian tanaman yang sudah terlanjur diserang dibersihkan dan dikumpulkan, lalu dikubur dalam kebun agar tidak menjadi sumber penularan terhadap tanaman lain.

  1. Daun layu dan kering

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.35

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Phytophthora solanacearum. Gejala pada tanaman yang terkena penyakit ini adalah daunnya berubah warna dari hijau menjadi kuning secara mencolok, lalu gugur. Cabang meranggas, dan akhirnya mati. Batang yang terserang, jaringan kayu di bawah kulit berwarna hitam atau biru tua dan berbau busuk. Pengendalianya, bongkar tanah sampai ke akarnya agar tidak menulari tanaman lain. Lanjutkan dengan pencegahan terpadu, meliputi sterilisasi bibit dan alat-alat dari kontaminasi, serta karantina tanaman secara konsekuen.

  1. Bunga dan buah busuk

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.34

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan-cendawan Colletrichum sp., Botryodiplodia sp., Fusarium sp., dan Pestalotiopsis sp.. Gejala tanaman yang diserang penyakit ini adalah kulit buah menghitam dan busuk. Kulit buah dan bijinya kering kecoklatan dan pecah-pecah. Bunga dan tangkainya busuk. Kulit biji busuk dan hitam. Untuk mengatasi penyakit ini perlu teknik pengendalian terpadu. Pada kasus yang berat dapat dibantu dengan pemberian fungisida efektif, seperti Dithane M45, Delsene MX200, Bifolan 4F, Cobox, dan Cupoxy Chloride.

  1. Gumosis/blendok

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.37

Infeksi penyakit yang disebabkan cendawan Botrydiplodia theobromae ini berawal dari pucuk ranting yang menyebar ke bagian pangkal. Ranting yang luka mengeluarkan getah coklat yang kemudian menyebar ke bagian-bagian lain dari tanaman. Sementara ranting menghitam, lalu mati, cabang dan batang yang terluka mengeluarkan cairan bening kekuningan yang lengket. Cairan ini lama-kelamaan mengental dan berwarna coklat kehitaman. Kulit kayu membusuk atau pecah-pecah dan menghitam, serta terus-menerus mengeluarkan lendir yang lengket.

Seperti halnya dengan ranting, cabang-cabang yang terinfeksi akhirnya akan mengering dan mati. Jika serangan terjadi pada bibit mengakibatkan pucuk menghitam dan daunnya gugur. Di daerah panas dan kering, penyakit ini juga menyerang akar dan batang. Pada jaringan tanaman yang diserang terdapat semacam bunga karang (spongy rot) yang kemudian ditumbuhi mycelia. Untuk mengendalikan penyakit ini, hindari perlukaan mekanis maupun fisis pada cabang/batang yang masih baik.

Jangan sekali-kali mengikatkan ternak pada pohon jambu mede Anda agar cabang dan batangnya tidak terluka. Di daerah yang berangin kencang, tanam tanaman pematah angin sebagai pagar. Apabila terlanjur terjadi serangan, kerok bagian tanaman yang sakit sampai bersih, oleskan larutan kapur dan fungisida pada bagian yang dikerok tersebut. Potong dan bakar kayu pagar yang terserang. Lakukan pemupukan berkala sesuai anjuran untuk memperbaiki kondisi tanaman.

  1. Bercak daun

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.38

Apabila tanaman jambu mede Anda menunjukkan gejala adanya bercak kecil transparan pada bagian ujung atau pinggir daun, tandanya tanaman Anda diserang penyakit bercak daun/ Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pestalotia sp. Bercak-bercak tersebut akan meluas ke bagian tengah daun dan baru berhenti menyebar karena terhambat sirip tulang daun. Jika diterawangkan pada sinar matahari, tampak jelas bahwa hijau daun (klorofil) tanaman ini rusak.

Daun tampak transparan, lalu mengering, dan rontok. Serangan yang berat dapat membuat tanaman gundul karena daunnya berguguran. Penyakit ini seringkali muncul pada puncak musim kemarau. Untuk mengendalikannya, kumpulkan daun-daun yang gugur dan bakar di luar kebun. Berikan mulsa di sekeliling pohon pada awal musim panas. Jaga kelembapan kebun dengan tanaman pelindung dan tanaman sela (penutup tanah). Untuk memperbaiki kondisi tanaman, berikan pupuk NPK sesuai anjuran.

  1. Mati pucuk (die back)

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.39

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Pellicularia salmonicolor, Corticium salmonicolor, dan Gleosporium spp.. Secara umum gejala penyakit ini adalah matinya pucuk-pucuk ranting. Tampak adanya bercak-bercak putih pada kulit ranting yang berlapis-lapis menyerupai benang sutra. Gleosporium secara spesifik menyerang akar, cabang, dan daun pada masa pembibitan dan setelah pemindahtanaman di kebun. Serangan cendawan ini terutama rawan terjadi saat curah hujan tinggi.

Penyebarannya melalui bekas-bekas luka pada tanaman. Cendawan-cendawan parasit ini akan tumbuh subur apabila tanaman dan kebun kurang terpelihara atau terawat dan tingkat kelembapannya tinggi. Cara menangani penyakit ini adalah pemangkasan pada cabang-cabang yang berada di bwah tempat yang terinfeksi. Sisa-sisa pemangkasannya dibakar. Pangkas pula cabang dan ranting yang telah tumbuh penuh agar tidak lembap. Atur kerapatan tanam yang sesuai.

Perawatan dan pemupukan yang baik akan mempercepat tumbuhnya tunas baru dan pemulihan tanaman. Gunakan fungisida apabila serangan cukup parah.

  1. Busuk kering pada buah dan biji

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.36

Penyebab penyakit ini adalah cendawan Aspergillus tanari, Penicillium citirium, dan Lasiodiplodia theobromae. Gejala serangan adalah tanaman mengeluarkan cairan manis yang tidak normal, kemudian buah menjadi busuk dan lunak. Buah dan gelondong mede yang terinfeksi akan mengering atau keriput sehingga busuk kering dan gugur. Ambil buah dan gelondong mede yang sakit dengan segera, lalu musnahkan. Perbaiki sanitasi kebun, perbaiki pula saluran irigasi untuk mencegah tingginya kelembapan. Atur kerapatan tanaman. Semprotkan fungisida bila perlu.

Penanganan hama dan penyakit dengan cara alami sebaiknya lebih diutamakan agar ekosistem kebun tetap terjaga baik. Terlebih pada tanaman-tanaman buah yang sering dikonsumsi langsung. Penggunaan obat-obatan kimiawi selain berbahaya jika terkonsumsi juga dapat membunuh musuh-musuh alami hama dan penyakit tanaman jambu mede. Padahal, pemanfaatan musuh alami seringkali terbukti efektif sebagai langkah pencegahan. Ada tiga jenis musuh alami: parasitoid, patogen, dan predator.

Parasitoid hidup pada tubuh serangga lain dan membunuhnya pelan-pelan. Contoh parasitoid adalah larva dari berbagai jenis tawon tabuhan kecil. Patogen adalah penyakit yang menyerang hama. Termasuk dalam jenis-jenis patogen, antara lain, berbagai macam jamur, bakteri, dan virus. Adapun predator adalah pemangsa hewan lain. Jenis predator yang dapat menjadi musuh alami serangga, seperti berbagai jenis laba-laba dan capung, semut rangrang, kepik leher, belalang sembah, cecopet, berbagai jenis tawon ganas, semut hitam, lalat apung/bunga, dan lalat buas.

Pemanenan

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.41

Ketepatan masa panen dan penanganan buah selama masa panen sangat penting. Tergantung asal bibit, tingkat kesuburan tanah, kondisi iklim sekitar kebun, dan perawatan, umur 2 – 3 tahun jambu mede sudah akan mulai berbunga dan berbuah. Akan tetapi, buah yang dihasilkan pada usia ini biasanya kurang memuaskan dan banyak yang rontok. Jambu mede dapat benar-benar dipanen pertama kali pada umur 3 – 4 tahun. Buah dapat dipetik pada umur 60 – 70 hari sejak munculnya bunga.

Masa panen biasanya berlangsung selama 4 bulan, mulai dari bulan November sampai Februari tahun berikutnya. Agar mutu gelondong kacang mede baik, buah yang dipetik harus sudah benar-benar tua. Berikut ciri-ciri buah jambu mede yang sudah siap panen.

  • Warna kulit buah semu menjadi kuning, jingga, atau merah tergantung jenisnya.
  • Ukuran buah semu lebih besar daripada buah sejati.
  • Tekstur daging buah semu lunak, rasanya asam manis, berair, dan aromanya mirip stroberi.
  • Warna kulit biji menjadi putih keabu-abuan dan mengilat.

Banyaknya hasil panen tergantung pada umur tanaman. Umur 3 – 4 tahun dapat menghasilkan 2 – 3 kg gelondong kering per pohon. Produktivitas ini akan meningkat hingga puncaknya pada umur 20 – 30 tahun di mana tiap pohon dapat menghasilkan 15 – 20 kg gelondong kering. Jambu mede akan terus berproduksi hingga usia 50 tahun, tetapi produktivitasnya cenderung menurun setelah melewati usia 30 tahun. Jambu mede tumbuh berumpun atau bergerombol namun dengan umur yang berbeda sehingga tingkat kematangannya tidak sama.

Panen harus selektif, dilakukan setiap 2 – 5 hari sekali selama 2 – 3 bulan tergantung banyaknya buah dan kemampuan tenaga kerja. Ada dua cara memanen jambu mede.

  1. Cara lelesan/kekesan, yaitu membiarkan buah yang telah tua tetap di pohon dan jatuh dengan sendirinya, atau menggoyangkan pohon agar buah yang sudah tua berjatuhan. Kemudian, buah yang telah jatuh dipungut sambil memilih buah yang baik. Buah yang kelewat matang atau memiliki gangguan fisik sebaiknya dibuang. Kelemahan cara ini adalah buah semu tidak dapat diolah lagi karena telah mengalami perubahan fisik dan kimiawi.
  2. Cara selektif, yaitu memetik buah yang sudah dipilih langsung dari pohon. Jika tidak memungkinkan untuk dipetik langsung, dapat menggunakan alat bantu galah dan tangga berkaki 3. Pada ujung galah dipasang alat penampung atau wadah untuk buah yang sudah dipetik. Buah yang dipilih tentunya yang telah benar-benar matang. Cara ini memiliki kelebihan terhindar dari kerusakan fisik karena terjatuh atau kerusakan kimia karena terlalu matang.

Apabila Anda ingin mengonsumsi langsung buah semu jambu mede, jangan ambil buah yang sudah terlalu matang karena rasa manisnya sudah rusak akibat perubahan kimia yang dialami buah semu. Berhati-hatilah ketika memetik jambu mede karena cairan dari buah semunya yang lengket sulit dihilangkan jika mengenai pakaian. Selesai dipanen, buah dikumpulkan secara manual sambil melakukan seleksi tahap pertama.

Baca juga :

Pengolahan pascapanen

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.42

Setelah panen, jambu mede memerlukan pengolahan sebelum dapat dipasarkan atau diolah lebih lanjut. Proses pengolahan jambu mede hingga menjadi kacang mede dan produk-produk olahan lainnya.

Pengolahan gelondong

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.43

Pengolahan gelondong kacang mede diawali dengan pemisahan gelondong kacang dengan buah semu. Caranya dengan dipuntir atau dipilin langsung dengan tangan hingga lepas atau menggunakan pisau untuk memotong tepat pada pangkalnya. Setelah dipisahkan, buah semu dapat dimakan langsung atau diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan sampingan jambu mede. Adapun gelondong kacang mede masih memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum dapat digunakan atau dipasarkan.

Tahap pengolahan kacang mede gelondongan selanjutnya adalah pencucian untuk membersihkan dari sisa-sisa buah semu yang masih melekat. Dilanjutkan dengan tahapan sortasi atau pemilihan kacang mede gelondongan yang bermutu. Tahapan ini dapat dilakukan sebelum atau setelah tahap pengeringan/penjemuran. Mede gelondongan yang berkecambah, rusak, tidak sempurna bentuknya, atau ada kerusakan lainnya dipisahkan dari yang sehat.

Selanjutnya, kacang mede gelondongan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari sampai kadar air yang tersisa tinggal 5 – 8%. Tujuan pengeringan untuk memudahkan pengolahan pada saat pengacipan, menghindari kerusakan mede gelondongan akibat kadar air yang tinggi dalam pengolahan, dan menghindari pencemaran minyak kulit mede (cairan CNSL) ke dalam biji sehingga kualitas biji menjadi sangat rendah dan dapat mengganggu tenggorokan ketika dikonsumsi.

Tingginya kadar air juga berakibat biji mede mudah terserang hama pascapanen dalam penyimpanan. Penjemuran dilakukan selama lebih kurang 2 hari. Akan tetapi, penjemuran juga jangan sampai terlalu kering karena biji mede yang terlalu kering mudah patah dalam proses pengacipan. Akibatnya nantinya banyak biji yang tidak utuh. Setelah penjemuran, kacang mede gelondongan didinginkan beberapa menit kemudian disimpan dalam karung. Mede gelondongan sudah dapat diolah ke tahap lebih lanjut.

Pengolahan biji kacang mede

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.44

Untuk mendapatkan biji kacang mede seperti yang kita lihat di pasaran, gelondong kacang mede perlu dikupas. Ada dua cara pengupasan, yaitu pemukulan dan pengacipan. Dalam proses ini, fasilitas dan kebersihan tempat pengerjaan harus diperhatikan. Selain itu, karena minyak yang keluar dari gelondong kacang mede mengandung zat yang berbahaya bagi kulit, pekerja wajib menggunakan alat pelindung berupa sarung tangan karet selama proses pengolahan gelondong kacang mede agar kulit tidak teriritasi.

Cara pemukulan diawali dengan pelembapan dan penyangraian gelondong kacang mede. Mede gelondongan digoreng lalu disiram air atau diberi abu/serbuk gergaji/bahan lainnya. Letakkan di atas landasan dengan bagian punggung di bawah, bagian perut menghadap ke atas. Ambil sebatang kayu, pukulkan pada mede gelondongan satu per satu hingga terbuka. Hasil kupasan yang rusak atau busuk langsung dipisahkan dari yang baik agar tidak bercampur.

Cara pengacipan menggunakan alat sederhana yang disebut kacip. Ada tiga macam kacip: kacip basah, kacip ceklok, dan kacip modifikasi. Alat-alat yang dibutuhkan selain kacip adalah kapur, karung, wadah penyimpanan, dan pencungkil. Kacip berfungsi untuk membelah kacang. Kapur berfungsi untuk menetralisir minyak kulit mede yang berbahaya untuk kulit. Karung sebagai alas saat mengacip dan tempat menampung kulit mede. Wadah penyimpan diperlukan untuk menyimpan hasil. Pencungkil digunakan untuk memisahkan biji mede yang masih melekat di kulit.

Letakkan kacip pada permukaan yang rata agar tidak bergerak atau bergeser selama proses pengacipan. Siapkan material kacang mede gelondongan dan pencungkil di atas kacip serta kapur. Letakkan material kacang mede gelondongan pada mata kacip bagian bawah. Lekukan kacang mede gelondongan menghadap ke atas pada mata kacip bagian atas. Mata kacip atas diturunkan dengan tangan kanan sambil tangan kiri tetap memegang kacang. Tekan kacip bagian atas ke bawah sampai berbunyi.

Hati-hati jangan sampai membelah biji mede di dalam gelondongan menjadi dua karena akan menurunkan kualitasnya. Gerakkan mata kacip ke kanan untuk memisahkan biji mede dan kulit. Apabila tetap belum terpisah, gunakan pencungkil.Sesudah gelondong biji terbuka, masih ada kulit ari yang menyelimuti biji mede. Pengelupasannya dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan pisau kecil yang tajam. Untuk memudahkan pengelupasan, biji mede dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari selama 2 – 3 jam.

Setelah dijemur, biji mede akan mengerut sehingga kulit arinya lebih mudah dikelupas. Selesai dijemur, biji mede dikeringkan lagi dengan pemanasan di atas wajan atau dalam oven. Pemanasan dengan oven dilakukan selama 2 – 4 jam dalam suhu 700oC.

Pemanasan dengan wajan memerlukan alat-alat berupa wajan sebagai wadah untuk memanaskan air yang uapnya akan digunakan untuk memanaskan biji mede sebelum kulit arinya dikelupas, talang sebagai wadah untuk meletakkan biji mede pada saat dipanaskan, air untuk mencegah kegosongan saat memanaskan biji mede, tungku sebagai pemanas, dan kayu bakar sebagai bahan bakar. Langkah pengerjaannya sebagai berikut. Isi wajan dengan air secukupnya, letakkan talang di atasnya.

Panaskan di atas tungku. Setelah air mendidih, letakkan biji mede yang akan dikupas kulit arinya di atas talang. Tunggu sampai kering dan dapat dikupas dengan tangan. Kupas perlahan untuk mengurangi risiko kerusakan. Apabila masih ada biji yang belum dapat dikelupas kulit arinya dengan tangan, panaskan kembali. Selesai dikupas dari kulit arinya, jemur kembali biji mede di atas rigen-rigen pengering yang diletakkan di bawah sinar matahari sambil dibersihkan dari sisa-sisa kulit ari yang masih menempel.

Pengeringan berlangsung selama 5 – 7 hari sampai kadar air yang tersisa tinggal 3 – 5%. Tindakan pengeringan kembali ini dapat meningkatkan ketahanan biji mede dalam penyimpanan. Selesai dikeringkan kembali, biji mede disortasi untuk memisahkan biji yang berkualitas baik, menengah, dan kurang baik. Kualitas menentukan harga jual. Sortasi berdasarkan keadaan, bentuk, ukuran, berat, dan warna biji. Faktor lain yang ikut memengaruhi mutu biji mede adalah rasa, bau, dan tekstur.

Rasa dipengaruhi faktor intrinsik alami dari varietas tanaman dan faktor ekstrinsik, seperti adanya jamur pada kacang dan pengaruh dari proses pengolahan. Biji mede kupas (cashew kernels) adalah biji dari buah jambu mede yang telah dikupas kulitnya dan telah dikeringkan. Standar mutunya berdasarkan pada SNI 01-2906-1992 terbagi atas empat kelas.

Syarat penilaian mutu dilihat dari masih ada atau tidaknya kulit ari yang menempel, biji terkontaminasi cairan CNSL (cashew nut shell liquid) atau tidak, adanya serangan serangga pascapanen atau tidak, berulat atau tidak, busuk atau tidak, bercendawan/berjamur atau tidak, ada tidaknya kontaminasi dari benda-benda asing lainnya, warna biji (kelas I berwana keputihan), bobot maksimum (kelas I 5 gr/biji, kelas II 5 gr/biji, kelas III 10 gr/biji), kadar air maksimal (Kelas I 16%, kelas II 15%, kelas III 15%), dan keutuhan biji mede (utuh, belah, pecah, atau tidak termasuk biji utuh).

Biji berkualitas terbaik bentuknya utuh, bebas dari kerusakan, bersih, dan bebas dari bercak-bercak berwarna. Utuh artinya 90% utuh tanpa cacat. Kadar air yang paling baik sekitar 3%, toleransi hingga 10 – 16%. Biji berkualitas juga harus bebas dari ketidakmurnian dan bau-bauan yang asing (bukan khas mede). Sortasi dan penentuan atau pengelasan mutu ini biasanya dilakukan secara manual. Untuk menguji mutu biji mede, sampel diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah peti atau karton dengan maksimum 30 peti/karton per partai barang.

Tiap peti/karton diambil sampel sekitar 500 gr. Sampel-sampel diaduk atau dicampur rata, dibagi empat, lalu dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali hingga sampel mencapai berat 1000 gr, lalu segel dan beri label. Tahap terakhir adalah pengemasan dan penyimpanan sebelum biji mete diolah menjadi produk lain atau dipasarkan. Hanya produk yang baik yang perlu dikemas. Biji mede sebagian besar terdiri dari lemak, protein, dan karbohidrat.

Fisik biji lunak, agak rapuh, cepat menyerap uap air dan bau. Juga mudah sekali diserang serangga dan cendawan. Oleh karena itu, setelah diproses sebaiknya langsung dipak dan disimpan. Pengepakan dengan kemasan yang kedap air dan udara, dapat berupa peti, kaleng, atau plastik kemasan. Pengemasan memperbaiki mutu biji mede, tetapi dapat mempertahankan dan melindungi mutu produk biji mede yang dikemas. Ruang atau tempat penyimpanan hendaknya dijaga selalu kering, tidak lembap, serta bersih dari kotoran, benda, atau zat yang berbau menyengat.

Manfaat jambu mede

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.46

Jambu mede memiliki kandungan nutrisi yang meliputi karbohidrat (gula dan serat pangan), lemak, protein, vitamin A, tiamina (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin (vitamin B3), asam pantotenat (vitamin B5), vitamin B6, folat (vitamin B9), vitamin C, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, tanin, dan zink. Kadar vitamin A mencapai 2.689 SI/100 gr, cukup untuk memenuhi 80% kebutuhan vitamin A harian pria dewasa, dapat menjaga kesehatan mata. Kandungan zat besinya per 100 gr buah dapat memenuhi kebutuhan zat besi harian pria dewasa, dapat mencegah anemia.

Kandungan vitamin C-nya lima kali lebih tinggi daripada jeruk. Kandungan vitamin C ini tidak hanya sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat penyembuhan saat flu dan sariawan, juga membantu mengurangi sesak napas dan mengobati asma, mengontrol tekanan darah, menurunkan kadar trigliserida, dan mengatasi penebalan arteri jantung (aterosklerosis). Kandungan kalsiumnya baik untuk kesehatan otot dan tulang.

Dapat dikatakan bahwa seluruh bagian dari pohon jambu mede memiliki manfaat. Mulai dari batangnya yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan, peralatan rumah tangga, dan kerajinan tangan. Kulit kayunya yang berbau tanah, rasanya kelat, dan jika digigit lama-kelamaan akan menimbulkan rasa tebal di lidah mengandung getah yang dapat dimanfaatkan sebagai zat perekat dan antirayap. Di samping itu, kulit kayu pohon jambu mede juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat obat sembelit, kencing manis, sariawan, disentri, dan diare.

Akar pohon jambu mede bersifat laksatif sehingga dapat digunakan sebagai obat pencahar/pencuci perut dan memacu aktivitas enzim pencernaan, selain dapat digunakan pula sebagai bahan ramuan obat sariawan dan diabetes. Juga berfungsi sebagai astringen. Tangkai daunnya dapat digunakan untuk pengelat. Daun jambu mede bersifat aromatik, rasanya kelat, memiliki khasiat antiperadangan, dan menurunkan kadar glukosa darah. Daun mudanya sering dijadikan lalapan (mentah ataupun kukus) dan sayur.

Juga dapat digunakan sebagai ramuan obat-obatan antirematik, tekanan darah tinggi, dan sariawan. Daun tuanya untuk obat berbagai penyakit kulit kronis, eksim, borok, dan luka bakar. Jus dari buah semu jambu mede dapat meningkatkan energi dan gairah untuk kesehatan seksual, membuat wanita menopause lebih mudah tidur, memberikan suplai energi, dan membantu menurunkan lemak saat berolahraga. Biasanya dikonsumsi langsung sebagai bahan rujak atau diolah menjadi berbagai jenis makanan olahan, seperti selai dan manisan.

Juga dapat diolah menjadi sirup. Buah semu jambu mede ini juga dapat dijadikan obat radang tenggorokan karena kandungan vitamin C-nya yang tinggi. Adapun buah jambu yang kualitasnya kurang baik biasanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kulit biji mede meskipun mengandung racun tetapi masih dapat dimanfaatkan, antara lain, sebagai bahan pelumas, insektisida alami, bahan pembuatan pernis, dan campuran plastik. Minyaknya bahkan dapat diolah menjadi obat-obatan, terutama untuk mengobati kutil.

Sementara, biji mede yang merupakan produk utama dari jambu mede, selain dijadikan bahan berbagai olahan makanan, juga memiliki banyak manfaat lain. Misalnya, melembutkan kulit, penghilang rasa nyeri (analgesik), dan obat sakit gigi. Satu buah utuh dari jambu mede, mulai dari buah semu hingga bijinya dapat digunakan sebagai obat gigitan ular berbisa.

Efek samping jambu mede

Pusat-Distributor-Grosir-Eceran-Jual-Bibit-Tanaman-Buah-Jambu-Mede-Murah-online-di-kota-kabupaten.47

Tanaman ini juga mengandung racun yang harus diperhatikan. Kandungan tanninnya dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit. Kulit buah sejatinya yang disebut gelondong mede mengandung minyak atau cairan CNSL (cashew nut shell liquid) yang dapat menimbulkan efek dermatitis pada kulit berupa pembengkakan dan peradangan. Minyak berwarna kuning muda yang rasanya manis ini (disebut juga minyak acayu) terdiri atas 40 – 50% kardol (tannin beracun) dan asam anakardia (anakardat) yang menyebabkan kulit terbakar dan menggelembung apabila tersentuh.

Memecah cangkang biji mede ini dengan gigi akan mengakibatkan bibir melepuh. Di dalamnya juga terdapat kandungan resin fenolik yang juga bersifat iritan bagi kulit. Racun dari kulit/cangkang kacang mede ini dapat hancur jika dipanggang. Perhatikan untuk melakukannya dengan cara yang benar. Lakukan di luar ruangan karena asap yang ditimbulkannya dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan menggoreng dan mengonsumsi kacang mede secara berlebihan karena dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Demikian serba-serbi seputar tanaman jambu mede yang perlu dipahami dalam pembudidayaan jambu mede. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda yang ingin mencoba membudidayakan tanaman eksotis ini. Untuk mendapatkan bibit jambu mede yang baik, Anda dapat mengunjungi laman kami di www.samudabibit.com atau langsung berkunjung ke kebun bibit kami di Perum Bumi Saraswati Desa Gaum Kecamatan Karanganyar Jawa Tengah.

Kami menyediakan bibit jambu mede baik untuk penjualan satuan maupun secara grosir dengan harga yang bersahabat. Kami juga melayani pembelian secara online berikut pengiriman langsung ke alamat tujuan. Di samping bibit jambu mede, kami juga menyediakan berbagai bibit tanaman perkebunan ataupun tanaman buah kegemaran dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan dan berbagai keperluan penunjang keberhasilan Anda dalam bercocok tanam buah-buahan, seperti pupuk dan obat-obatan, juga alat-alat perkebunan.

Produk terbaru

Rekening Bank

3270296652 a.n. Dwi Setiawan
138-00-1490645-2 a.n. Dwi Setiawan
0395463300 a.n. Dwi Setiawan
0149-01-044031-50-2 a.n. Dwi Setiawan

Pengiriman